24 C
id

Wali Murid Sejumlah SD di Air Salek Keluhkan Penerapan PJJ, Sekolah Pilih Sesuaikan Jam Belajar



Banyuasin | Sumsel.suarana.com — Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) kembali diberlakukan di sejumlah satuan pendidikan sekolah dasar negeri di Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kebijakan tersebut menyusul surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Banyuasin terkait penyesuaian kegiatan belajar mengajar akibat kondisi kabut asap.

Namun, penerapan PJJ tersebut menuai keluhan dari sejumlah wali murid. Mereka menilai pembelajaran tatap muka masih lebih efektif dibandingkan sistem daring, terutama dalam membantu peserta didik memahami materi pelajaran.

Berdasarkan edaran, PJJ kembali diberlakukan mulai Senin, 5 Oktober hingga Jumat, 9 Oktober 2026. Sebelumnya, sistem serupa juga diterapkan pada 26–30 September 2026 dengan mempertimbangkan kondisi kabut asap yang dinilai berpotensi memengaruhi kesehatan peserta didik.

Salah seorang wali murid SDN 1 Air Salek mengatakan, pembelajaran tatap muka dinilai lebih membantu anak dalam berkonsentrasi menerima materi pelajaran dibandingkan mengikuti pembelajaran secara daring.

Menurutnya, dalam proses tatap muka guru dapat memberikan penjelasan secara langsung sehingga peserta didik lebih mudah mengikuti kegiatan belajar.

Sementara itu, Kepala SDN 1 Air Salek, Erwin Sutrisno, S.Pd., membenarkan adanya penerapan dua metode pembelajaran di sekolahnya. Menurut Erwin, kondisi tersebut muncul setelah adanya berbagai masukan dari dewan guru serta permintaan sebagian besar wali murid.

Erwin menjelaskan, sekolah tetap memberikan pilihan pembelajaran daring sesuai ketentuan edaran Disdikbud. Namun, bagi wali murid yang tetap meminta anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka, sekolah memberikan materi secara langsung dengan catatan adanya tanggung jawab dari wali murid.

"Iya, jadi ini dilema sebagai pemimpin. Satu sisi edaran meminta sistem daring, sedangkan dari sebagian besar guru yang atas permintaan wali minta tetap tatap muka," terang Erwin.

Untuk menyesuaikan kondisi kabut asap, pihak sekolah juga melakukan perubahan jam belajar. Peserta didik masuk lebih siang dan pulang lebih cepat.

"Jadi hari ini kita berlakukan penerapan masuk lebih siang, itu jam 9 dan pulang lebih cepat. Untuk kelas 4, 5, 6 pulang jam sebelas, yang kelas 1, 2, 3 mungkin jam 10. Ke depannya kita akan lihat situasi," lanjutnya.

Erwin menegaskan, penerapan tersebut masih bersifat menyesuaikan kondisi perkembangan kesehatan peserta didik serta situasi di lapangan.

Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah wali murid lainnya. Salah seorang sumber yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengatakan, pembelajaran tatap muka juga dinilai membantu orang tua dalam menjalankan aktivitas sehari-hari karena tidak harus terus mendampingi anak selama proses pembelajaran daring.

Sejumlah tenaga pendidik yang ditemui juga mengaku menerima keluhan serupa dari sebagian wali murid. Mereka menyebut, PJJ apabila berlangsung terlalu lama dikhawatirkan dapat memengaruhi efektivitas proses pembelajaran.

SDN 4 dan SDN 5 Tetap Tatap Muka

Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di SDN 4 dan SDN 5 Air Salek. Berdasarkan pernyataan tertulis wali murid, kegiatan pembelajaran tatap muka di kedua sekolah tersebut tetap dilaksanakan.

Plt Kepala SDN 5 Air Salek, Rohmiati, S.Pd.SD., mengatakan keputusan tersebut tidak terlepas dari kondisi jaringan internet di wilayah sekolah yang dinilai kurang mendukung pelaksanaan pembelajaran daring.

"Di sini sinyal susah sekali, makanya tidak memungkinkan untuk pembelajaran jarak jauh dan wali murid juga keberatan," ungkap Rohmiati.

Menurutnya, penyesuaian jam masuk dan jam pulang menjadi salah satu alternatif yang diterapkan sekolah dengan mempertimbangkan kondisi kabut asap.

Hal serupa juga diterapkan di SDN 4 Air Salek. Kegiatan belajar mengajar tatap muka tetap berjalan berdasarkan permintaan wali murid yang dituangkan melalui surat pernyataan.

Dalam surat tersebut, wali murid menyatakan kesediaan bertanggung jawab apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama anak mengikuti pembelajaran tatap muka.

Dengan kondisi tersebut, sejumlah pihak berharap Disdikbud Kabupaten Banyuasin dapat mengevaluasi kembali penerapan edaran PJJ dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah sekolah.

Penyesuaian jam masuk dan jam pulang dinilai dapat menjadi salah satu opsi bagi sekolah yang masih melaksanakan pembelajaran tatap muka, tentunya dengan tetap memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan peserta didik.

. Pewarta : Junaidi


Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
Advertisement
- Advertisment -