Nelayan Upang Meninggal Dunia, Diduga Terdampak Bisa Ulat Bulu Laut
Banyuasin | Sumsel.suarana.com — Kabar duka menyelimuti masyarakat Desa Upang, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Seorang nelayan bernama Dendi bin Anuar dikabarkan meninggal dunia setelah diduga terdampak bisa hewan laut yang oleh nelayan setempat dikenal sebagai ulat bulu laut.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian masyarakat, khususnya para nelayan yang setiap hari beraktivitas di perairan. Pasalnya, selain ulat bulu laut, terdapat pula hewan lain yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan segunggungung dan dinilai berbahaya.
Berdasarkan keterangan Sam, salah seorang kerabat almarhum, Dendi meninggal dunia setelah terkena bisa hewan laut yang dikenal sebagai ulat bulu laut oleh para nelayan setempat.
Sam menjelaskan, hewan tersebut memiliki bentuk menyerupai ulat bulu yang biasa ditemukan di daratan. Namun, bentuk tubuhnya dinilai lebih menyeramkan karena memiliki bagian menyerupai gerigi.
"Ulat bulu biso nye yang bahayo. Samo cak ulet bulu itulah, tapi rai ulet tu serem, begerenek-gerenek," jelas Sam.
Atas kejadian yang menimpa kerabatnya, Sam mengimbau para nelayan dan pekerja laut agar meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di perairan.
Menurutnya, ulat bulu laut maupun hewan yang dikenal dengan sebutan segunggungung perlu dihindari karena dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan.
"Hati-hati untuk dolor-dolor dan keluarga yang di laut. Semoga berhati-hati dengan ulat bulu atau segunggungung laut. Saudara kita Dendi bin Anuar telah meninggal dunia, karena bisa hewan tersebut," imbuhnya.
Nelayan Diminta Waspadai Dua Jenis Ulat Bulu Laut
Sementara itu, Amir, seorang warga yang memiliki pengalaman panjang bekerja di laut dan pernah merantau ke Kepulauan Bangka Belitung, menyebutkan bahwa terdapat dua jenis ulat bulu laut yang dikenal masyarakat, dengan karakteristik bulu yang berbeda.
Menurut Amir, ada jenis yang bulunya tidak mudah terlepas dan ada pula yang bulunya dapat terlepas ketika bersentuhan dengan kulit.
"Ade duo mecem jenis die tu, ade yang bulunye idak lepas, ade yang pas kesenggol bulunye itu lepas. Nah, bulu itu masuk ke badan, itulah yang bahayo. Kali fisik kuat, die jadi borok. Kalu dak kuat, itulah galak dak tetolong tu. Banyak kalu di Bangko sudah keno itu," ujar Amir.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi para nelayan agar tidak menyentuh hewan laut yang belum diketahui jenis dan tingkat bahayanya secara langsung.
Kondisi Kesehatan Almarhum Turut Menjadi Perhatian
Di sisi lain, seorang warga setempat menyebutkan bahwa almarhum sempat menjalani pemeriksaan medis dan diketahui memiliki kadar gula darah yang tinggi. Namun, menurut keterangan warga tersebut, kondisi itu disebut tidak segera ditindaklanjuti karena kendala ekonomi.
Meski demikian, informasi mengenai kondisi kesehatan almarhum tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Belum ada keterangan medis resmi yang memastikan apakah kadar gula darah tinggi turut berkontribusi terhadap meninggalnya Dendi.
Demikian pula, hubungan langsung antara paparan bisa ulat bulu laut dan kematian almarhum belum dapat dipastikan tanpa keterangan dari tenaga medis atau hasil pemeriksaan yang berwenang.
Peristiwa ini diharapkan menjadi perhatian bersama agar keselamatan nelayan saat bekerja di laut semakin diutamakan. Masyarakat yang mengalami paparan bulu atau sengatan hewan laut dan merasakan gejala yang mengkhawatirkan diimbau segera mencari pertolongan medis.
Pewarta: Junaidi


