24 C
id

Gerakan Bangunkan Sahur dan Tadarusan Tuai Kontroversi di Berbagai Daerah




Banyuasin |Sumsel.suarana.com - Seiring perjalanan waktu dan kemajuan teknologi yang kini semakin meningkat. Adat budaya pun tampaknya perlu mendapatkan diperhatikan khusus dalam proses pemeliharaan serta tata cara pelaksanaan nya. Salah satu diantaranya adalah kegiatan tadarus Al-Qur'an dan gerakan membangunkan orang untuk bersahur di bulan Ramadhan tahun ini yang terpantau cukup menuai Kontroversi di berbagai daerah.

Meskipun tak semarak pada awal bulan, tetapi tadarus Al-Qur'an dan gerakan membangunkan sahur terpantau ramai dilakukan di berbagai tempat ibadah umat Islam seperti masjid mushola maupun surau surau. Berdasarkan hasil analisis investasi yang dilakukan bukan kegiatan tersebut yang memicu banyak penilaian negatif. Tetapi waktu dan mekanisme pelaksanan yang dilakukanlah  justru disoroti berbagai pihak bahkan oleh sesama umat Islam itu sendiri.

Henny Damayanti. Menilai tadarus Al-Qur'an yang dilakukan di wilayah Kecamatan Makarti Jaya tempat dimana ia menetap saat ini terkesan terlalu. Pasalnya memang hampir semua tempat ibadah umat Islam pada malam hari usai sholat tarawih yakni sekitar pukul 21,00 ke atas marak terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibaca menggunakan pengeras suara. (3/3/2026)


Henny Damayanti berpendapat bahwa akan lebih baik bilamana kegiatan tersebut dilaksanakan dengan cara bijak seperti menggunakan pengeras suara di bagian dalam tempat ibadah dimaksud, bukan dengan cara yang biasa dilakukan yakni penggunaan pengeras suara di bagian luar, apalagi kegiatan ini biasanya terjadi sampai dengan tengah malam yang tentu saja mengganggu waktu istirahat penduduk yang bermukim di sekitar.

"bukan tidak senang orang membaca Al Qur'an, tapi mungkin alangkah baiknya kalo pake mic di dalam saja kalo emang mau sampe tengah malam juga nggak papa banget, untuk kami yang sehat justru jadi pengantar tidur, tapikan kasian kalo ada orang tua yang sedang sakit pengen istirahat, atau para ibu-ibu yang harus tidur karena besok harus bangun masak sahur" acapnya 

Sebelumnya juga pernah diunggah ke sosial media oleh Mawi, seorang penduduk Desa Tanjung Baru Kecamatan Muara Padang. Dalam unggahan tersebut Mawi meminta agar waktu membangunkan orang untuk bersahur diharapkan bisa disesuaikan dengan waktu yang pas.

Senada dengan itu Masrad, warga Desa Upang Kecamatan Air Salek juga menyampaikan keluhannya tentang gerakan membangunkan sahur yang saat ini dinilai tidak lagi berperan sebagai bentuk ibadah melainkan berupa gangguan waktu istirahat tidur malam orang orang yang tinggal di sekitar masjid mushola maupun surau surau dimaksud.

Kendati demikian sejauh ini belum ada komentar maupun tanggapan dari pihak pemerintah ataupun pemuka agama disekitar area kontroversi tersebut 


. Pewarta:  Junaidi
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
Advertisement
- Advertisment -
⚠️ Peringatan Plagiarisme
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Dukung jurnalisme independen bersama Suarana.com untuk terus menghadirkan berita berkualitas.

👉 Klik di sini untuk mendukung