24 C
id

Menunggu Bantuan, Lagiman Ungkap Perpustakaan SDN 19 Dibangun dari Material Daur Ulang



Banyuasin | Sumsel.suarana.com — Kondisi gedung perpustakaan SD Negeri 19 Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, menjadi sorotan setelah terungkap bahwa bangunan tersebut menggunakan material daur ulang. Di tengah kebutuhan peningkatan sarana pendidikan, kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai perhatian terhadap fasilitas penunjang literasi di sekolah.

Kepala SDN 19 Makarti Jaya, Lagiman, S.Pd., M.Si., mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi sarana pendidikan tersebut. Ia menilai, pemenuhan fasilitas sekolah seharusnya menjadi perhatian bersama, terlebih bagi satuan pendidikan yang membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Lagiman bukan sosok baru dalam dunia pendidikan di Kecamatan Makarti Jaya. Ia pernah menjabat sebagai koordinator Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kecamatan Makarti Jaya serta memimpin sejumlah sekolah dengan berbagai capaian prestasi.

Menurut Lagiman, selama menjalankan tugas sebagai kepala sekolah, sejumlah prestasi berhasil diraih, baik di tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Ia mencontohkan pengalamannya saat memimpin SD Negeri 1 Makarti Jaya. Sekolah tersebut, kata dia, berhasil meraih akreditasi A, menjadi salah satu sekolah dengan perpustakaan terbaik di Sumatera Selatan, serta mengantarkan kepala sekolah dan guru memperoleh penghargaan tingkat provinsi.

Bahkan, menurutnya, sekolah yang pernah dipimpinnya beberapa kali mewakili Sumatera Selatan dalam ajang tingkat nasional.

"Memang terlihat ironis kalau melihat gedung perpustakaan yang dibiarkan dan mubazir. Kalau mau mengungkap sejarah, selama saya memimpin sekolah selalu ada prestasi. Bahkan, empat kali dalam empat tahun kami mewakili Sumsel hingga ke grand final tingkat nasional," ungkap Lagiman.

Soroti Ketimpangan Fasilitas Perpustakaan



Pada Senin (12/10/2026), Lagiman juga menyoroti unggahan Facebook Amin Mukri yang berkaitan dengan kondisi perpustakaan sekolah. Ia mempertanyakan pemerataan fasilitas pendidikan di Kecamatan Makarti Jaya, terutama ketika terdapat sekolah yang memiliki lebih dari satu perpustakaan, sementara sekolah lain disebut belum mempunyai fasilitas serupa.

"Di Makarti Jaya pun ada satu sekolah memiliki tiga perpustakaan, dan ada sekolah yang sampai saat ini belum memiliki perpustakaan. Di Facebook saudara Amin Mukri, kok masih ditemukan bangunan perpustakaan yang terlantar dan tidak digunakan," ujarnya.

Menurut Lagiman, persoalan sarana dan prasarana pendidikan perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Ia berharap kebutuhan sekolah tidak hanya menjadi bahan pembicaraan, tetapi juga ditindaklanjuti melalui program pembangunan maupun rehabilitasi yang sesuai kebutuhan.

Ia juga mengungkapkan bahwa selama mengabdi di dunia pendidikan, dirinya kerap menghadapi keterbatasan fasilitas sekolah.

"Sedangkan secara kinerja dan bukti mengharumkan Bumi Sedulang Setudung tidak diragukan lagi. Haruskah selalu mengemis, memohon rehabilitasi gedung, pembangunan jembatan sekolah, perpustakaan, UKS, dan sebagainya?" tuturnya.

Ungkap Pengorbanan Selama Memimpin Sekolah

Lagiman turut menceritakan pengalamannya ketika memimpin SD Negeri 14 Makarti Jaya selama kurang lebih satu setengah tahun. Dalam kurun waktu tersebut, sekolah itu disebut berhasil meraih juara pertama dalam bidang literasi sekolah dan implementasi Kurikulum 2013.

Namun, di balik capaian tersebut, ia mengaku pernah menggunakan dana pribadi untuk mendukung pembangunan serta pembenahan sekolah yang dipimpinnya.

"Terakhir, ini yang paling banyak membuat saya meneteskan air mata. Silakan dicek, bukan saya mengantongi uang, tetapi justru merogoh kocek pribadi untuk membangun sekolah. Masyarakat tahu bagaimana kondisi sekolah sebelum dan setelah saya pimpin," tuturnya.

Selain prestasi akademik dan pengelolaan sekolah, Lagiman juga mengungkapkan keterlibatannya dalam program Adiwiyata, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga Adiwiyata Mandiri.

Di bidang kepramukaan, ia mengaku pernah menjalankan berbagai tugas organisasi, di antaranya sebagai Kamabigus, Kakwaran, andalan cabang, Wakapuslitbangcab, serta asesor Kwarda.

Ia juga menyinggung perkembangan Gerakan Pramuka di SDN 19 Makarti Jaya. Menurutnya, gugus depan bernomor 08.059–08.060 tersebut telah menorehkan sejumlah prestasi, termasuk pencapaian akreditasi A dan melahirkan Pramuka Garuda.

Bagi Lagiman, berbagai capaian tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi sekaligus perhatian bersama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, terutama terkait pemenuhan sarana dan prasarana sekolah.

"Miris. Seharusnya pemerintah melihat perjuangan dan hasil yang telah mengharumkan nama Bumi Sedulang Setudung. Boro-boro mendapatkan penghargaan pribadi, sarana dan prasarana sekolah saja hanya janji," tegasnya.

Menunggu Perhatian Pihak Terkait

Kondisi gedung perpustakaan SDN 19 Makarti Jaya diharapkan mendapat perhatian dari instansi terkait. Perpustakaan merupakan salah satu fasilitas penting untuk menunjang budaya literasi, memperluas wawasan, serta meningkatkan minat baca peserta didik.

Karena itu, keberadaan perpustakaan semestinya diikuti dengan kondisi bangunan yang layak dan pemanfaatan yang optimal untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan dari pihak terkait mengenai kondisi terkini gedung perpustakaan tersebut, alasan penggunaan material daur ulang, tingkat kelayakan bangunan, maupun rencana perbaikan dan tindak lanjut atas kebutuhan fasilitas pendidikan yang disampaikan.

Redaksi Sumsel.suarana.com membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak sekolah maupun instansi terkait guna menghadirkan pemberitaan yang berimbang.

Pewarta: Junaidi


Postingan Lama
Postingan Lebih Baru
Advertisement
- Advertisment -