Miris, Lampu Rumah Warga Jalur 11 Tak Menyala hingga Larut Malam
Banyuasin | Sumsel.suarana.com — Kondisi tegangan listrik di kawasan Jalur 11, Dusun II, Desa Upang, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, kembali menjadi sorotan. Rendahnya voltase membuat sebagian lampu rumah warga tidak mampu menyala normal hingga larut malam, Rabu (23/9/2026).
Pantauan dan informasi yang dihimpun di lapangan, kondisi tegangan rendah masih dirasakan warga hingga larut malam. Sejumlah rumah bahkan belum dapat menikmati penerangan secara normal akibat daya listrik yang masuk tidak mencukupi.
Kondisi tersebut memunculkan kekecewaan di tengah masyarakat. Beberapa warga bahkan menduga persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini seperti tidak mendapat penanganan serius dari pihak terkait.
Warga mempertanyakan perhatian terhadap persoalan rendahnya voltase tersebut. Mereka menilai, persoalan kelistrikan di wilayah mereka tidak semestinya hanya mendapat perhatian ketika terjadi pelanggaran seperti pencurian arus listrik, sementara persoalan kualitas tegangan yang dikeluhkan masyarakat justru belum kunjung terselesaikan.
Penilaian tersebut juga diarahkan kepada pemerintah dan wakil rakyat daerah yang dianggap belum menunjukkan solusi nyata atas persoalan listrik yang telah berlarut-larut.
Pasalnya, kondisi yang dirasakan pada Rabu malam ini disebut semakin parah dibandingkan sebelumnya. Jika pada Senin (21/9/2026) warga mengeluhkan tegangan rendah hingga sekitar pukul 19.11 WIB, kali ini persoalan tersebut disebut masih berlangsung hingga malam.
Foto rumah dengan penerangan mesin gensetWarga yang memiliki genset terlihat masih dapat menggunakan penerangan alternatif. Namun, penggunaan genset tentu menambah beban pengeluaran karena warga harus membeli bahan bakar agar rumah tetap dapat memperoleh penerangan.
Persoalan ini sekaligus memperpanjang keluhan masyarakat Jalur 11 yang selama bertahun-tahun menghadapi masalah tegangan rendah. Lampu rumah warga kerap redup dan tidak stabil. Kondisi tersebut bahkan sebelumnya digambarkan warga seperti “kunang-kunang” karena nyalanya naik turun.
Menurut sejumlah warga, kondisi Rabu malam terasa lebih buruk dibandingkan Senin petang lalu. Rendahnya tegangan listrik membuat aktivitas masyarakat, terutama setelah malam hari, ikut terganggu.
Di tengah kondisi tersebut, warga juga menerima informasi adanya rencana pemadaman listrik pada Kamis (24/9/2026), dengan estimasi waktu sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 WIB.
Kondisi ini membuat warga semakin khawatir. Sebab, ketika listrik menyala pun tegangan belum tentu cukup untuk membuat penerangan dan sejumlah peralatan listrik berfungsi sebagaimana mestinya.
Bagi masyarakat Jalur 11, listrik yang memadai bukan sekadar kebutuhan penerangan. Tegangan yang stabil dibutuhkan untuk menunjang aktivitas rumah tangga, komunikasi, kenyamanan, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Warga berharap persoalan jaringan listrik yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut mendapat perhatian dan penanganan nyata dari pihak terkait. Mereka juga menaruh harapan terhadap program Listrik Desa (Lisdes) agar nantinya mampu menghadirkan jaringan listrik yang lebih layak dan stabil hingga ke rumah-rumah warga.
Setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan tegangan rendah, masyarakat Jalur 11 kini kembali menunggu satu hal sederhana: listrik yang menyala normal dan stabil.
Pewarta: Junaidi


